Kesehatan Anda adalah
Prioritas Kami

Puskesmas Lenteng hadir memberikan pelayanan kesehatan primer yang berkualitas, cepat, dan mudah diakses.

Daftar Online

Jam Buka
Layanan

🚨 UGD 24 Jam
-
Senin - Sabtu :
07.30 - 12.00
-
Jum'at :
07.30 - 10.30

Kontak
Darurat

Ketersediaan Kamar

Rawat Inap4 Kosong
VK Bersalin2 Kosong
Isolasi1 Kosong

Informasi Rujukan

Memuat...

Program Inovasi

1

Ketan Srikandi

Kelompok Pantauan Sukarela Risti Kandungan

2

Teropong Emas

Temukan, Obati, Pantau Orang dengan Gangguan Jiwa

3

Gempur Rokok

Gerakan Membantu Perokok Berhenti Rokok

Pengaduan & Kritik

Punya keluhan, saran, atau kritik untuk pelayanan kami? Sampaikan melalui:

Galeri Kegiatan

Memuat galeri...

Berita Kegiatan

Lihat Semua →
Sindrom Metabolik : Perut Buncit dan Bahaya Karbohidrat
5/5/2026

Sindrom Metabolik : Perut Buncit dan Bahaya Karbohidrat

Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi kini menjadi beban utama kesehatan di Indonesia. Puskesmas yang menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) tidak lagi bersikap reaktif, tetapi aktif melakukan skrining dini. Salah satu target utamanya adalah sindrom metabolik – kumpulan kondisi: obesitas sentral, tekanan darah tinggi, gula darah puasa tinggi, dan dislipidemia. Dua alat ukur paling sederhana namun sangat strategis di Puskesmas ILP adalah lingkar perut dan IMT. Lingkar perut mencerminkan lemak viseral penyebab resistensi insulin. Batas aman: <90 cm (laki-laki) dan <80 cm (perempuan). IMT menilai status gizi. Kombinasi keduanya mampu mendeteksi risiko sejak dini. Sayangnya, banyak penderita tidak menyadari kondisi mereka – inilah fenomena gunung es. Lebih dari 60% penderita diabetes dan hipertensi belum terdiagnosis. Mereka merasa sehat padalah lingkar perut sudah melebihi batas. Di Puskesmas ILP, skrining rutin bisa menangkap mereka yang berada di "kaki gunung es" sebelum jatuh sakit. Faktor utama yang memperparah sindrom metabolik adalah pola makan masyarakat yang masih >60% kalori dari karbohidrat, terutama nasi putih. Secara biokimia, semua karbohidrat dipecah menjadi glukosa. Asupan nasi berlebih menyebabkan lonjakan glukosa darah terus-menerus. Patofisiologi singkat: Hiperglikemia kronik → peningkatan sekresi insulin → sel menjadi resisten (gangguan sinyal insulin via fosforilasi serin pada IRS, menghambat GLUT-4) → glukosa tertahan di darah. Kelebihan glukosa diubah hati menjadi lemak yang disimpan di perut. Lemak viseral melepas asam lemak bebas dan sitokin inflamasi, memperburuk resistensi insulin dan memicu hipertensi. Ketika sel beta pankreas kelelahan, terjadilah diabetes. Pesan: Datang ke Puskesmas, minta ukur lingkar perut dan IMT. Batasi nasi, perbanyak protein dan serat. Setiap sentimeter lingkar perut yang berkurang adalah langkah nyata mencegah PTM.

Cek IMT
IMT:
-

Artikel Kesehatan

Lihat Semua →
Sindrom Metabolik : Perut Buncit dan Bahaya Karbohidrat
Edukasi

Sindrom Metabolik : Perut Buncit dan Bahaya Karbohidrat

Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi kini menjadi beban utama kesehatan di Indonesia. Puskesmas yang menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) tidak lagi bersikap reaktif, tetapi aktif melakukan skrining dini. Salah satu target utamanya adalah sindrom metabolik – kumpulan kondisi: obesitas sentral, tekanan darah tinggi, gula darah puasa tinggi, dan dislipidemia. Dua alat ukur paling sederhana namun sangat strategis di Puskesmas ILP adalah lingkar perut dan IMT. Lingkar perut mencerminkan lemak viseral penyebab resistensi insulin. Batas aman: <90 cm (laki-laki) dan <80 cm (perempuan). IMT menilai status gizi. Kombinasi keduanya mampu mendeteksi risiko sejak dini. Sayangnya, banyak penderita tidak menyadari kondisi mereka – inilah fenomena gunung es. Lebih dari 60% penderita diabetes dan hipertensi belum terdiagnosis. Mereka merasa sehat padalah lingkar perut sudah melebihi batas. Di Puskesmas ILP, skrining rutin bisa menangkap mereka yang berada di "kaki gunung es" sebelum jatuh sakit. Faktor utama yang memperparah sindrom metabolik adalah pola makan masyarakat yang masih >60% kalori dari karbohidrat, terutama nasi putih. Secara biokimia, semua karbohidrat dipecah menjadi glukosa. Asupan nasi berlebih menyebabkan lonjakan glukosa darah terus-menerus. Patofisiologi singkat: Hiperglikemia kronik → peningkatan sekresi insulin → sel menjadi resisten (gangguan sinyal insulin via fosforilasi serin pada IRS, menghambat GLUT-4) → glukosa tertahan di darah. Kelebihan glukosa diubah hati menjadi lemak yang disimpan di perut. Lemak viseral melepas asam lemak bebas dan sitokin inflamasi, memperburuk resistensi insulin dan memicu hipertensi. Ketika sel beta pankreas kelelahan, terjadilah diabetes. Pesan: Datang ke Puskesmas, minta ukur lingkar perut dan IMT. Batasi nasi, perbanyak protein dan serat. Setiap sentimeter lingkar perut yang berkurang adalah langkah nyata mencegah PTM.